sumber gambar:.idntimes.com-animasi-lucu-
Seperti biasa mataku terbangun saat alarm hp bergetar. Rasa kantuk masih sayup-sayup dipelupuk mata. Ada rasa malas yang bergulat dihatiku. Setan mulai merayu hatiku untuk tak beranjak dari tidur nyanyakku. Alarm bergetar pukul 03.00 namun baru beranjak pukul 04.00. Ku tarik selimutku yang sering menemaniku tidur, teman ternyaman yang tak pernah bosan memelukku dan tak pernah mengeluh menyelamatkanku dari penjahat-penjahat yang mengincar darahku. Dengan sempoyongan dan rasa kantuk yang masih memelukku, ku berjalan menuju kamar mandi. Kuguyur tubuhku dengan air dingin, seolah mengguyur rantai setan-setan yang membuatku malas bangun. Kusucikan sebagian anggota tubuhku dengan air wudhu agar setan benar-benar hilang. Setelah selesai kusucikan tubuhku, kutunaikan sholat subuh.
Pukul
05.30 waktunya berangkat mengajar di SD Sape Muhammadiyah. Sudah 4 bulan
lamanya aku bekerja sebagai guru kontrak di sekolah tersebut. Mapel yang
kuajarkan bukan mapel seperti biasa tetapi iqro’. Mungkin tinggal sejenak aku
bersama anak-anakku. Aku membimbing lima orang anak yang kata wali kelas
anak-anak yang istimewa. Istimewa dalam artian anak-anak yang agak sulit untuk
belajar.
Terkadang
hatiku bergumam ‘’harus sedih atau bahagia nak, karena hampir setiap hari
bertemu kalian. Bahagianya selama 4 bulan kita bersama terus, melihat
perkembangan kalian. Sedihnya kalian terlambat dari yang lain. Itu tidak
apa-apa nak, karena kemampuan kalian ibu tidak memaksa.
Ruangan yang awalnya di kelas dipindah di perpustakaan. Di perpustakaan dikhususkan bagi anak-anak yang belum tuntas iqro’nya. Kuumumkan kepada anak-anak tempat iqro’nya dipindah di perpustakaan. Ada anak bimbinganku berkomentar
‘’ Bu.. aku kalau di perpustakaan nggak mau iqro’, aku tidak mau membaca’’.
Aku tersenyum kecil melihatnya. Namanya Kenzi. Dia termasuk anak yang isimewa. Keistimewaannya ialah pemahaman materi agak sulit, tehnik pembelajarannya harus memakai metode agar ia hafal huruf-huruf hijaiyah. Misalnya huruf lam, dia mengingat huruf tersebut dengan kata-kata ‘’mancing di laut la’’. Untuk menghafal huruf ha, dia selalu bilang ha..ha..ha(seperti orang kepedasan). Terkadang hatiku ketawa geli. Kenzi adalah anak yang berbeda. Saya yakin meskipun lambat paham, dia anak yang nurut dan perhatian sama temannya. Ketika tidak mau iqro’ aku selalu bilang...
,’’kamu mau jadi anak sholeh nggak? Ma,''jawabnya dengan mata berkerut ekpresi tak mau iqro’.
,''Makanya ngaji yang rajin, Bunda nanti marah lho kalau kenzi nggak mau iqro’ kamu mau Bunda sedih? Kenzi hanya termenung dan diam.
,’’iya-iya aku mau iqro''.
Hatiku tergelitik melihat ekspresi kenzi yang perawakannya seperti orang India. Hebatnya meskipun sering diejek temannya masih iqro’ rendah, dia tidak malu. Bahkan dia mau untuk belajar iqro’ bersama temannya. Echa namanya, dia sering kusuruh untuk membantu kenzi memahami huruf-huruf hijaiyah. Aku mengajari anak yang lain, ini salah satu metodeku agar kenzi tidak lari kemana-mana. Echa adalah anak yang manja. Hal itu terlihat, dia sering memelukku dan selalu bercerita saat aku mengajari khalista. Dia merasa cemburu ketika aku lebih perhatian dengan khalista. Dari segi belajar iqro’ dia lebih menguasai dibandingkan yang lain, tetapi dia sering badmod jadi agak lama untuk lanjut iqro’. Aku sering mencubit pipinya yang kemerah-merahan karena gemes melihatnya. Aku selalu bertanya mamamu cantik ya? Dia hanya tersenyum, terlihat gigi ratanya yang kecil. Dia yang sering cerita padaku, aku hanya bilang iya-iya saja karena saya tidak paham apa yang dia maksud.
Anak prempuan kedua yang menjadi anak bimbinganku ialah Khalista. Dia terkadang kurang fokus untuk belajar iqro’, dia agak sulit paham dan suaranya sangat pelan. Namun, akhir dipenghujung dia mulai bisa, tidak sesulit dulu yang harus mengulang terus. Khalista sering memamerkan botol air yang sering gonta-ganti kepada teman-temannya. Kadang aku tertawa melihat polah tingkah anak ini. Ada kejadian yang membuatku terhenyak terharu dan membuat otakku mengerut. Suatu hari, suasana perpus semakin tidak kondusif, anak-anak berlalulalang kesana kemari, berlarian. Aku kebingungan mengontrol mereka dan kubiarkan dia maen asalkan tidak keluar.
Pikirku mungkin mereka bosan dengan materi iqro’. Tema-tema pengajar iqro’ yang lain juga sudah kelelahan untuk mencegah mereka untuk tidak berlarian diperpus. Aku menulis evaluasi dan tugas rumah mereka serta mengamati mereka sambil tersenyum kecil. Sesekali aku memberhentikan tulisanku dan tersenyumn sendiri mengingatkaj masaku saat baru masuk MIN. Apakah seperti mereka ya aku?Hehehe. Khalista tiba-tiba mendekatiku dan membisikkan sesuatu digendang telingaku saat tanganku masih mencoret-coret buku mereka. Dengan muka masam dan mulut cemberut dia bertanya
‘’Bu...kalau orang yang suka pilih-pilih teman itu bagaimana?Aku sontak kaget dan memberhentikan tulisanku.
‘’Itu tidak baik nak,,kita tak boleh pilih-pilih teman’’. Jawabku sambil menatap wajahnya yang tampak sedih. Memanya kenapa Khalista?
‘’Echa nggak mau bermain denganku’’, dengan menunduk lesu . Dia maunya bermain dengan Bilqis. Aku langsung terhenyak dan iba melihatnya. Kemudian langsung panggil semua anak-anak bimbinganku.
‘’Anak-anak pilih-pilih teman itu tidak baik, semuanya teman, tidak boleh
pilih-pilih teman ya? Echa, Bilqis tidak boleh pilih-pilih temannya ya? Itu
tindakan yang tidak sholih. Sepertinya Echa dan Bilqis mengerti apa yang
kumaksudkan dan akhirnya mereka bisa bermain bersama.
Anak-anak
terkadang membuatku belajar banyak untuk
menjadi orang yang lebih baik, karena terkadang anak-anak mengatakan hal yang
sebenarnya yang kadang orang tua tak percaya. Anak bimbinganku selanjutnya
ialah Dipta. Dia sering sekali bertengkar dengan kenzi, namun terkadang dia
baik dengan kenzi. Tidak bisa ditebak anak ini. Dia sering tidak mengaji dengan
alasan capek. Anak yang rambutnya ikal ini selalu megejek Kenzi yang level iqro’nya rendah dari pada dia dan
membuatnya bangga dengan level yang lebih tinggi. Dia sering tidak fokus saat
iqro. Irfan adalah anak bimbinganku yang paling pandai, karena keteledoranku
yang kurang memperhatikan dia, dia agak terlambat untuk masuk Quran. Awalnya
dia tidak mau untuk kupindah dengan temanku, ini demi kebaikan dia, karena saya
terlalu fokus dengan anak-anak yang lebih istimewa ‘’tanda kutip’’, tetapi
kupaksa dia belajar iqro’ dengan pengajar yang lain.
Itulah
kelima anak bimbinganku dengan keistimewaannya. Aku yakin tidak ada anak yang
bodoh, hanya kita sebagai orang tua tidak menyadari bakat si anak. Misalnya,
anak yang mapel dia belum menguasai, tetapi dia anak yang penurut dan pendiam
apakah dianggap bodoh? Kupikir tidak. Anak-anak memiliki kemampuan
sendiri-sendiri. Pengalaman terbesarku selama mengajar ialah melatih kesabaran, emosi dan melatih bagaimana
membuat anak-ank paham dengan apa yang kumaksud. Menjadi guru tidak semudah
yang orang pikirkan. Guru memang harus mendapatkan apresiasi tinggi karena
beliau-beliaulah yang mengenalkan huruf-huruf hingga menjadi bermakna dan mampu
diucapkan.
Pukul
05.50 aku tiba di depan halaman SD Muhammadiyah Sapen Yogyakarta. Lingkungan yang ramah
dengan aroma kereligian melekat. Kulangkahkan kakiku menuju absensi. Nomor
delapan itulah namaku, kuisi waktu tiba di Sekolah dan tandatangan. Tiba-tiba
ada yang memelukku dari belakang ketika kutaruh sepatuku di rak yang tak jauh
dari perpustakaan.
‘’Bu
guru...,’’. Hai...Echa.... tadi diantar siapa? sapaku
Papa
Bu..
Aku
lansung membawakan tasnya yang tampak berat masuk ke perpustakaan. Anak-anak
lain juga saling berdatangan. Kelihatannya aku akan rindu dengan anak-anak ini.
‘’Terima kasih nak sudah mengajarkanku
banyak pelajaran penting dalam hidupku, belajar menjadi orang tua yang ekstra
keras untuk keberhasilan kalian,’’gumamku dalam hati.
Dibuat tahun 2017 saat penulis masih tinggak di Yogyakarta
Komentar
Posting Komentar