
Semoga lelah ini bermanfaat
ya Tuhan’’ gumamku dalam hati. Kurebahkan tubuhku di atas tanah yang sudah
terselimuti tikar di dalam tenda
yang sudah berdiri kokoh. Dua bulan ini memang sangat menguras tenagaku mulai dari
karantina les SMPTN di Ponpes selama satu bulan dan hari ini melakukan
perkemahan pemuda-pemudi satu bulan
kedepan juga. Perkemahan ini di adakan
oleh salah satu organisasi Islam di kotaku. Alhamdulillah, aku terpilih menjadi
perwakilan kotaku, tidak hanya aku yang terpilih, ada enam temanku yang
terpilih ikut perkemahan ini. Kami beda sekolah tetapi dipertemukan dalam
karantina tes SNMPTN di Ponpes. Kami sudah seperti keluarga. Ketika kupejamkan
mataku sejenak, bunyi ponselku berdering.
Hai kamu lagi apa?
Lagi rebahan, capek
tau...kamu?
Wahh jangan-jangan kita
jodoh,,,hahaha
Maksud lho?
Aku tersenyum.
Maksudku sama hahaha, serius
banget bacanya...tapi kalau jodoh juga gpp hahaha
Hemm mulai lagi dech, mending
belajar buat besok untuk lomba..
Udah kog, capek tau belajar terus hahaha
Kapan kamu belajar? Kamu aja
chat aku....
Yeah kamu, aku tuh udah
kemarin belajarnya, kemarin kan satu bulan full udah belajar di Ponpes, kan
juga sama belajar...hahahaha
Tau ah kamu... hahhahah
Dia Dani, kami dipertemukan
saat karantina, dia pintar dan PDnyaa tingkat dewa, aku merasa
terhibur ketika chat
dengannya.
Paginya kami berenam mengikuti
lomba. Lombanya ialah,lomba matematika, biologi, fisika, kimia dan debat. Aku
ditunjuk untuk ikut lomba biologi dan Dani matematika.
Kirana Fathimah silakan ke
depan karena acara akan segera di mulai, ‘’suara
mc memanggilku. Tiba-tiba ponselku berdering, saya pikir dari Dani ternyata
dari Gus Faris.
Assalamualaikum, semangat ya?
Semoga berkah dan lancar lombanya, jangan lupa baca bismillah dan banyak
sholawat ya dek?
Waalaikusalam, Iya Gus, doanya ya?
Hatiku berdegub kencang,
rasanya tak karuan. Aku jadi semangat, aku harus dapat juara, celetusku dalam
hati. Aku senyum-senyum sendiri membalas
chatnya. Siapa yang nggak senang di chat oleh seorang Gus, anak pengasuh
pesantren yang pernah kutempati saat karantina. Kami bertemu saat diskusi sama
teman-temanku di Aula. Beliau memang hamble dan friendly. Seminggu akhir dari
karantina kami kadang-kadang chatingan. Hatiku sering berdegub kencang ketika mendapatkan chat darinya, entahlah rasanya senang dan bahagia sekali. Belum ada keberanian untuk chat duluan karena merasa
takut dan tidak enak.
Kami kembali ke tenda setelah
lomba, tidak sabar menanti pengumuman. Otak terasa pecah, hati gelisah menanti
hasilnya. Tiba-tiba ponselku kembali
berdering saat kurebahkan tubuhku.
Hai kamu, nggak kangen aku ya? Kog nggk dibalas chatku.
Haduuh aku lupa balas chat
Dani, ini gara-gara ada chat yang lebih membuat hatiku bahagia, maaf ya Dani,
gumamku dalam hati.
Hahaha,,nggak sempat Dan
maaf..
Okelah....gimana tadi
lombanya?
Ketika aku mau membalas chat
Dani ada pesan masuk di hpku, dan itu dari Gus Faris.
Assalamualaikum dek, maaf
ganggu, gimana tadi kamu bisa ngerjain soalnya kan?
Ya Tuhan teduh banget chatmu
gus, dapat chatmu saja sudah senang apalagi,,,Astagfirulloh mikir apa aku,
tidak mungkin gus Faris suka sama aku, tidak mungki, aku siapa, aku tidak ahli
ibadah. Ya Tuhan biarkan aku jadi penggemarnya, penggemar kealimannya,
ketaqwaannya. Maafin Kirana Tuhan. Segera kubalas chatnya
Waalaikumsalam Gus,
Alhamdulillah.Doanya ya Gus semoga dapat hasil memuaskan hehhehe, tapi
sempat gelisah dan khawatir Gus dengan
hasilnya hehehe
Alhamdulillah, gpp dek,
walaupun hasilnya tidak memuaskan, aku berterimakasih karena kamu sudah mau
mewakili kota kita.
Iya Gus, terimakasih
kembali,,
Iya...owh ya udah azhan, yuk jamaah.
Alisku berkerut,hati berdebar-debar.
Jamaah Gus?? tanyaku
Iya, di Masjid, pahalanya
lebih banyak.
Hehe iya. Pikirku jamaah berdua hehehe celetusku dalam
hati
Iqomah bekumandang, kusucikan
sebagian tubuhku secepat mungkin takut ketinggalan sholat jamaah. Setelah
selesai kurapikan sandalku di rak. Tiba-tiba ada yang menyapaku. Assalamualaikum.
Kupandang wajahnya, Ya
Tuhan...hatiku berdebar-debar sangat
kencang. Ya Tuhan...tampan sekali dia, tidak hanya tampan dia juga baik dan
sopan. Baru kali ini aku mengenal sesosok
dia. Ya Tuhan..Indah sekali ciptaanmu. Dia tersenyum padaku. Waalaikumsalam
Gus, aku tersipu malu.
Hatiku semakin berdegub
kencang saat dia melantunkan takbiratulihram, dia menjadi imam jamaah Ashar.
Entah kenapa air mataku menetes. Ya Tuhan...aku ingin dia jadi
imamku,’’lirihku. Ku perbanyak istigfar dan menyadarkan diri bahwa aku siapa.
Iya ketidakmungkinan, tetapi kalau Tuhan berkehendak siapa yang tahu. Aku hanya
berharap dan berdoa untuk didekatkan jika ia memang yang terbaik.
Ketika mengambil sandal di
rak Gus Faris menyapaku dan teman-temanku.
‘’Assalamualaikum, gimana
kalian? Ada masalah tidak selama perkemahan ini.
‘’Waalaikum salam Gus, tidak Gus, tapi seperti ada yang kurang gitu hehehe,’’ cetus Dani ceplos-ceplos.
Aku hanya mampu menundukkan wajahku dan sesekali aku menatap wajahnya, begitu sumringah dan teduh wajahnya.
‘’Ya Tuhan...maafkan Kirana, ya Tuhan izinkanlah aku dekat dengannya’’.
Akupun selalu menyadarkan diri aku ini siapa, aku bukan bernasab sama seperti dia.
‘’Apa yang kurang Dan hehehe,’’senyumnya terlihat gigi kecilnya dan tak bosan untuk dipandang''.
‘’Gini Gus, didekat sini kan ada objek wisata, mbok yao kita ke sana hehehe,’’kata Dani dengan cengengesan.
‘’Owalah bisa-bisa, ya udah besok saja kalau gitu,’’ jawab Gus Faris dengan tersenyum. ‘’Siap Gus,’’ kami serentak menjawab.
Kami berenam sangat senang sekali dengan hal itu.
Hasil lomba diumumkan semua
dari berbagai perwakilan kota berkumpul di Aula untuk mendengar pemenang lomba.
‘’Juara lomba mapel Biologi di menangkan oleh, juara ke 3 di raih oleh Kirana Fathimah,’’ hatiku tak karuan mendengar namaku dipanggil.
Aku agak kecewa karena tidak mendapatkan
juara pertama. Aku lemas, padahal ingin sekali membuat bangga Gus Faris yang
sudah menunjukku untuk lomba mapel Biologi. Akupun hanya terdiam, pandanganku
kosong dan Mila yang berada disampingku menepuk bahuku untuk mengambil piala.
Aku tersadar dari lamunanku.
‘’Na....heh...malah bengong,
kamu juara 3, sana ke depan ambil piala,’’ Mila menepuk bahuku
‘’Hah,,,iya,,,ya,’’
Akupun kedepan dan yang
menyerahkan Gus Faris sebagai ketua
organisasi Islam seJateng.
‘’Selamat ya dek,’’ sambil
tersenyum kepadaku..
‘’Iya Gus’’’...jawabku lirih
dan tanganku bergetar menerima piala dari
tangannya.
‘’Dek....aku pengen ngomong
sesuatu padamu, nanti habis ini di dekat danau,’’ dia membisikan lirih
ditelingaku. Iya Gus,
Setelah kupegang piala aku langsung kembali duduk disamping Mila
‘’selamat ya Na,’’ kami bersalaman dan Mila langsung memelukku sebagai tanda selamat.
‘’Iya Mil hehehe,’’sambil tersenyum kepadanya.
‘’Eh, aku keluar dulu ya, tadi disuruh Gus Faris, tadi
katanya mau ngomong seseuatu Mil, ngomong apa ya? Aku jadi dag dig dug der
nieh, apalagi dia Gus,’’
‘’Udahlah nggk usah mikir negatif dulu, Gus Faris itu friendly, mungkin dia mau ngasih sesuatu padamu karena sudah juara 3, sana jangan buat dia menunggu''.
''Oke dech,,,,oow ya titip dulu pialaku ya?''
‘’Oke''.
Dengan rasa deg degan aku
memenuhi panggilannya. Di dekat
danau dengan hawa yang lumayan dingin, kulihat dia duduk di bawah pohon yang
rindang. Ya Tuhan....teduh sekali aku
memandangmu, lelaki alim meminta untuk
menemuinya.
‘’Assalamualaikum Gus,’’
dengan malu-malu aku mencoba berani
menyapanya.
‘’Waalaikusalam,’’ dia
tersenyum padaku.
‘’Ada apa ya Gus,’’
Dia tesenyum dan menghela
nafas panjangnya. Aku menundukkan wajah dan sesekali mecuri pandang wajahnya.
Seperti ada cahaya di wajahmu Gus,’’gumamku dalam hati. Dia hanya diam sambil
melihat keindahan danau. Sejenak suasana hening hanya ada suara angin sesekali
menyergap tubuh kami. Aku juga mulai bingung bagaimana memulai percakapan
dengannya.
‘’Dek Kirana,’’ dia
menyapaku dengan lirih
‘’Iya Gus...jawabku
‘’Maksud aku memanggilmu ke sini untuk ngomog seseuatu padamu, mungkin yang kita
lakukan ini tidaklah benar dek, kita menjauh dari keramaian dan ngobrol berdua
di sini. Dek aku minta maaf sebelumnya,’’
‘’Maaf Gus????Aku kaget
mendengar perkataannya...
‘’Iya Maaf dek....Maaf karena selama dua bulan ini
aku sering mencuri pandang wajahmu yang tidak kamu ketahui, dek...aku
mencintaimu...bayanganmu selalu ada dalam pikiranku, aku bingung mengalihkan
bayanganmu. Maafkan aku dek...
Dia berbicara tanpa melihat
sedikitpun padaku, matanya menikmati keindahan danau sedangkan mulutnya
mengurai isi hatinya dan aku memperhatikan
wajahnya lekat-lekat tanpa melewatkan sedetikpun. Tak sadar air mataku
jatuh, dia melihat aku meneteskan air mata. Aku melihatnya dengan takjub, begitulah
orang alim mencintai seorang prempuan dengan berterusterang dan meminta maaf.
‘’Kenapa dek....maaf ya
dek,’’ Gus Faris melihat air mataku jatuh.
‘’Gpp Gus...sebenarnya dua
bulan ini aku juga sering memperhatikanmu Gus,,,maafkan aku Gus, aku berdoa untuk didekatkan
denganmu, entahlah Gus, setiap kali menatapmu hatiku nyaman Gus, tapi aku
selalu menyadarkan diriku untuk tahu diriku, bahwa kita berbeda Gus, aku tak
bernasab mulia denganmu Gus. Apa kata orang-orang nantinya.
‘’Jadi,,dek kirana juga punya
rasa seperti denganku?
‘’Heem Gus,’’ aku mengangguk.
‘’Dek...maukah kamu jadi
calon istriku?
‘’Tanpa berpikir panjang aku
jawab iya ...tapi maaf Gus, aku tak bisa langsung jadi istrimu, aku harus
kuliah dulu, apa Gus Faris mau menungguku 4 tahun?tanya ku kepadanya
‘’Iya dek...tidak masalah,
santai aja dek, saya masih belum planning nikah, skripsi juga belum kelar
hehehe
Iya Gus...heheheh....
Tiba-tiba ponsel Gus
Faris berdering, ternyata dari Dani.
Anak ini selalu menggaanggu hidupku,’’gerutu hatiku.
Dari Dani...Alhadulillah, dia
juara 1 dan Mila juara 2 dan lomba debat
juara 1...alhamdulillah, kalian memang benar-benar hebat.
Benarkah Gus...Alhadulillah
Akhirnya kami berenam bermain di dekat danau untuk mengabadikan moment indah ini. Ya Tuhan terimakasih semua ini. Setelah puas bermain-main di danau kamipun kembali ke tenda masing-masing. Aku dan Mila sampai di depan tenda dan langsung kurebahkan diriku , kuhela nafas panjang sambil senyum-senyum sendiri menunggu chat dari sang kekasih. Ketika aku asyik dengan bermain hp dan senyum-senyum sendiri tak sadar Mila menepuk bahuku.
,’’Hai..s..kamu kenapa?Senyum-senyum sendiri, kayak orang gila aja. Akupun cengengesan. ,’’Mau tau Mil? Tapi jangan bilang siapa-siapa dulu.
,’’Iya...apa sih..,jawab Mila sambil bermain HP. ,
’’Mil...aku jadian dengan Gus
Faris.
’’Apa...kamu jadian sama Gus
Faris!!!!!
’’Heem,’’ aku Cuma mengangguk, Mila sontak kaget dan bangun dari tidurnya, Mila menatap wajahku lekat-lekat untuk memastikan dia benar atau cuma bercnda.
‘’Kamu tida bercanda kan Na? Akupun langsung bangun tidur untuk menyakinkannya.
‘’Iya Mil, Gus Faris menembakku di danau tadi, memangnya kenapa Mil, kog kamu begitu kaget mendengarnya.
‘’Tidak Mil Cuma khawatir aja sama kamu,’’ pembicaraan kami semakin serius. ‘’Memaaangnya kenapa? Tanyaku dengan penuh kekecewaan diraut mukanya.
‘’Gini Na setahuku kalau Gus, dia pasti dapat Neng, Neng itu sebutan anak putri Kyai, dan biasanya mereka di jodohkan untuk menyambung nasab mereka Na.
‘’Iya sih Mil, aku juga mikirnya juga begitu, tetapi aku mencintainya Mil, aku butuh seseorang seperti dia Mil.
‘’ Ya terserah kamu sih Na, Cuma setahuku seperti itu.
‘’Iya Mil, makasih.
‘’Ciye yang mau jadi calon Bu Nyai...heheheh,’’ kamipun tersenyum.
Selama tiga tahun lamanya
menjalin hubungan dengan Gus Faris
membuatku berubah drastis. Dari mulai penampilan, yang dulu sering pakai
celana ketat dan kaos ketat kini kurubah memakai rok dan kaos yang agak lebar.
Selalu kuitiqomahkan memakai jilbab baik di kampus maupun di rumah. Selain itu
kuistiqomahkan membaca quran one juz one day meskipun sibuk kuliah. Bersamanya
banyak merubah hidupku. Aku merasa ingin cepat selesai kuliah dan menikah
dengannya. Walaupun LDR dan jarang bertemu kami tetap menjaga hati
masing-masing. Kadang juga marahan karena miss komunikasi. Namun, aku berusaha
mengerti dan memahami dia bak seorang istri. Kadang pula seminggu kami tidak
ada komunikasi karena sibuk masing-masing. Enam bulan lagi gelar sarjana
Biologi akan menyemat di namaku dan sebentar lagi statusku berubah menjadi serorang istri. Akupun telah siap jika
nantinya Gus Faris mengajakku nikah. Hampir sebulan lebih dia tidak
menghubungiku bahkan chatku pun tidak dibacanya, ku coba telpon juga tidak diangkat. Kucoba untuk
berpikir positif mungkin dia sibuk. Akhirnya dia membalas chatku.
‘’Waalaikumsalam dek..maaf
tidak membalas chat kamu selama ini. Sebelumnyaa aku minta maaf dek..
‘’Iya gpp mas...aku juga tahu
kamu pasti sibuk ngurus pondok kamu,’’
aku berusaha memahami dan mengerti bak seorang istri memahami suaminya.
‘’Dek ada yang ingin
kubicarakan,’’ Iya apa? Dek maafin aku
‘’Kog minta maaf terus sih,
udah tak maafin kog, aku mengerti kog, kamu pasti sibuk.
‘’Makasih dek atas
pengertiaannya, dek...
‘’Iya Mas,’’ maukah kamu mau
nikah denganku pikirku dalam hati heheh
‘’Dek, maaf aku harus bilang
sekarang, aku mau kita putus
Tiba-tiba tenagaku lemas seketika, kepalaku berkunang-kunang
,''Dek...selama dua bulan ini aku sengaja tidak
menghubungimu, aku bingung harus bagaimana lagi, aku dijodohkan dengan anak
teman abahku, aku sempat menolah dek, aku juga sudah jujur kalau aku punya
hubungan denganmu, tapi apa dayaku dek, aku tidak mampu membuat abah dan umi
kecewa, dan akhirnya aku istikharah dan tirakat untuk mendapatkan keputusan
terbaik, maafkan aku dek, keputusannya aku harus terima perjodohan ini dek,
keberkahan orang tua sangat kuperlukan dek, maaf dek..maaf dek, sampai disini
hubungan kita dek, semoga kita masih bisa bersilaturrahmi, kamu sudah kuanggap
adikku sendiri dek, maafkan aku dek''.
Belum sempat kubalas chatnya
mataku mulai remang-remang, pandanganku kosong tak sadar tubuhku terpelanting
kelantai dan hpku jatuh. Teman-temanku yang berada diluar kos mendengar barang
jatuh di kosku, mereka menghampiriku dan melihat aku terjatuh dilantai. Aku
yang lemas tak punya daya, dengan mata yang remang-remang aku melihat kerumunan
orang menggotongku ke tempat tidurku dan yang lain membenarkan hpku, rasanya
aku ingin mengambil hpku, namun pita suaraku terasa tercekik, mataku mulai
gelap, dunia terasa gelap beserta kisah cintaku yang terjalin 3 tahun telah
usai.
Komentar
Posting Komentar