Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2015

Meski Senja Pena tetap Membara

Korrie Layun Rampan itulah namanya. Hanya bisa kenal nama tanpa wajah. Yang jelas dia terkenal sebagai sastrawan Indonesia. Malu rasanya sebagai mahasiswi sastra Idonesia belum pernah membaca karyanya. Senin, 8 Maret 2015 pertemuan pertama dengan sesosok penyair paruh bayah dengan segudang prestasi di dunia sastra Indonesia. Ratusan cerita telah tersaji rapi di rak-rak toko buku, puluhan yang lain masih tersimpan rapi dalam rumah elekroniknya.   Tepatnya di Lab Karawitan Uny, awal berjumpa dengan penyair inspirasi yang membuka mata terbelalak   untuk menekuni dunia kepenulisan. Bedah buku ‘’Kumpulan Cerpen Prempuan angkatan tahun 2000’’ memuat 27 penyair prempuan yang telah di pilih oleh Bang Korrie panggilan akrabnya. Sebelum, menatap wajahnya yang paruh baya, saya kira wajahnya masih muda dan tenyata 62 tahun umurnya. Namun, darah kepenulisannya masih mengalir tiada henti, bahkan generasi muda terkalahkan olehnya. Bang Korrie mengatakan setiap waktu d...

Kualitas Guru di Indonesia

 Kualitas Guru   Guru menjadi skala prioritas dalam penentu pendidikan. Guru ialah seorang yang mengajari peserta didik untuk  mendapatkan wawasan keilmuan. Namun, kondisi sekarang ini guru dinilai tidak mengerjakan kewajibannya sebagai guru. Akan tetapi guru hanya memikirkan gaji yang akan diperoleh. Gencar-gencarnya sertifkasi untuk guru makan semakin banyak pula jurusan guru jadi incaran. Sehingga calon-calon guru semakin banyak. Namun, guru yang diperlukan disebuah sekolah terbatas.  Sertifikasi guru tidak menjamin kualitas mutu guru. Hal ini bisa diketahui dari nilai rapor yang diperoleh siswa. Ada guru yang tidak serius dalam mengajar. Malas mengajar padahal sudah dapat sertifikasi. Jika hal ini diteruskan, maka mutu pendidikan di Indonesia akan rendah dan akan terbelakang dari negara-negara lain. Seharusnya guru berperan sebagaimana mestinya sebagai guru. Karena keberadaan guru untuk pendidikan sangatlah penting.

Bahan Menulis Adalah Membaca

Menulis kalimat indah, butuh kreativitas dan imajinasi. Tidak segampang menulis biasa, menulis membutuhkan ketrampilan dan kebiasaan. Menulis tidak hanya sekedar menuangkan ide-ide tetapi menuangkan ide agar bermanfaat bagi semua orang. Menulis membutuhkan bahan. Bahan untuk menulis adalah membaca. Membaca ibarat guru menulis. Semakin banyak membaca, semaki banyak pula kata-kata yang akan muncul. Dengan membaca segudang pengetahuan akan tersimpan dalam otak. Melalui membaca, akan mengetahui berbagai macam hal. Bahkan dari luar negeripun bisa.