![]() |
| Dok: Internet |
Peluang usaha kuliner tradisional adalah salah satu peluang
usaha yang sangat menjanjikan. Ada banyak kuliner di Yogyakarta. Berbagai kuliner
tradisional maupun modern hadir di Yogyakarta. Kuliner modern yang dikemas
dengan berbagai macam bentuk tidak membuat
kuliner tradisional sepi peminat. Namun, pengusaha kuliner tradisional
harus mencari peluang untuk mempertahankan usahanya. Ada banyak usaha-usaha
yang gulung tikar dan ada juga yang masih bertahan lama. Khususnya untuk bisnis
kuliner.
Bu tiga seorang ibu lima anak ini, sejak tahun 2000 sudah
menggeluti usaha kuliner hingga sekarang. Awal usaha bermodal Rp. 20.000 saja
dan kini omzetnya hingga puluhan juta perbulan. Ide awal membuka usaha ini,
ingin mencari kesibukan sebagai ibu rumah tangga.
‘’Dari pada nganggur di rumah, lebih baik mencari kesibukan
yang bermanfaat dan bernilai’’jelasnya saat ditemui di rumahnya.
Dengan modal minim, ibu berusia 35 tahun ini awalnya membuat
kue bolu kukus saja dan dijualkan ke warung-warung yang tidak jauh dari rumahnya. Jika
tidak laku, dibagikan orang-orang. Dari tahun ke tahun usahanya semakin
berkembang, sehingga menambahkan variasi makanan ringannya. Yaitu, ketan, getuk
dan tiwul yang sekarang diproduksi.
Makanan tersebut makanan tradisional Indonesia. Makanan yang banyak
diminati para pelanggan ternyata tiwul. Tiwul inilah yang menjadi makanan andalan bisnis kuliner bu Tiga. Makanan
ringan ini dikemas dengan modern, yaitu berbalut plastik mika kecil. Bentuknya setengah
lingkaran kecil, lonjong dan unik.
Sementara Marselina kakak bu Tiga sekaligus karyawan lama menjelaskan,
tidak mengalami kesusahan dalam membuat adonan tiwul. Dia menjelaskan
bahan-bahan yang digunakan juga mudah dicari di Yogyakarta. Namun, kadang dia
juga kesusahan mendapatkan bahan yang berkualitas. Bahan dasar dalam membuat
tiwul yaitu tepung ketela pohon, gula putih, gula merah dan parutan kelapa.
Marselina mengatakan membeli tepung ketela pohon di daerah Mangunan Yogyakarta
yang kualitas tepungnya lebih bagus dari pada di Malioboro. Perbedaan tepung di
Mangunan dan Malioboro terlihat dari adonan yang sudah jadi. Kalau di Mangunan
lebih lembek dan di Malioboro masih hambur tidak terbentuk sentengah lingkaran.
‘’Kami membeli tepung singkong di daerah Mangunan mbak,
kualitasnya lebih bagus dibandingkan di Malioboro. Kalau tepung di Mangunan
lembek berbentuk dan di Malioboro masih hambur tak berbentuk. Kami membeli
langsung dari produksinya di sana, jadi sudah langganan kami,’’jelasnya saat
melepaskan cetakan tiwul yang sudah jadi.
Dalam pembuatan adonan tiwul ini sangat mudah. Namun, pembutannya harus memakai takaran yang
tepat agar kualitas rasa tetap sama. Ayu karyawan baru bu Tiga menjelaskan
takaran membuat tiwul. Yaitu satu kg tepung, dua centong gula putih, setengah
kg gula merah dan setengah kg parutan kelapa. Bahan-bahan tersebut dicampur
rata, kemudian dimasukkan ke dalam cetakan. Butuh 20-30 menit sampai tiwulnya
matang.
‘’Bahan-bahannya ditakar mbak, agar kualitas rasanya sama,’’jelasnya
saat mengaduk-aduk adonan tiwul,’’.
Tempat untuk mengukus adonan tiwulpun sudah modern. Awalnya
mengukus tiwul menggunakan panci untuk memasak nasi. Namun, karena pesanan membludak, akhirnya
mencari tempat kukusan yang lebih cepat matang dan mudah untuk diangkat. Tempat
kukusannya berbentuk kotak dengan ukuran
panjang 45 cm, lebar 45 cm, tinggi 32 cm. Terbuat dari bahan stainless
dan dilengkapi dengan kaca bening di salah satu pinggirnya.
‘’Kalau memakai panci ribet mbak, harus ngangkat pancinya
terlebih dahulu, harus ngambilin satu persatu, dan itu sangat panas sekali,
baru kemudian mengkukus lagi. Kalau
pakai yang ini lebih praktis mbk, tiwul yang matang diangkat, kemudian adonan
tiwul yang lain ditaruh lagi,’’kata Marselina saat membuka tutup kukusan adonan
tiwul yang matang.
Ayu mengatakan,
pernah membuat tiwul dengan cetakan berbentuk bunga. Namun, hasilnya kurang diminati para pelanggan. Para
pelanggan lebih banyak menyukai cetakan setengah lingkaran dari pada cetakan
berbentuk bunga. Sehingga sampai sekarang cetakannyapun tidak berubah.
‘’Sempat pernah ganti cetakan mbak. Cetakan berbentuk bunga,
tapi pelanggan tidak suka, lebih suka cetakan yang setengah lingkaran, saya pun
tidak tahu kenapa,’’tungkas Ayu sambil mengadoni tiwul.
Di mata karyawan bu Tiga termasuk orang yang ramah,baik
dan menganggap karyawan sebagai
keluarganya sendiri. Namun, kadang bu Tigar pernah menegur saat kelupaan
memasukkan bahan. Seperti yang dikatakan Pras karyawan lama bu Tiga, lelaki
berumur 24 tahun ini mengaku pernah ditegur bu Tiga, saat lupa memasukkan bahan
adonan. Namun, itu membuat dirinya untuk lebih baik lagi. Cara menegur bu Tiga
bukan seperti orang marah dan benci, tapi sekedar mengingatkan akan lebih baik
lagi. Hal ini membuat Pras betah kerja bersama bu Tiga.
‘’mungkin gara-gara udah dianggap keluarga sama bu Tiga,
jadi betah kerja di sini mbak,’’tungkasnya saat dalam kesibukkannya membuat
adonan.

Komentar
Posting Komentar