
Pengertian Morfofonemik
Morfofonemik, disebut juga morfonemik, morfofonologi, atau
morfofonologi, atau peristiwa berubahnya wujud morfemis dalam suatu proses
morfologi, baik afiksasi, reduplikasi, maupun komposisi.
Pendapat lain mengatakan bahwa morfofonemik adalah peristiwa
fonologis yang terjadi karena pertemuan antara morfem dan morfem. Morfonemik
dalam Bahasa Indonesia hanya terjadi dalam realisasi morfem dasar dan realisasi
morfem afiks, baik sufiks, konfiks, prefiks maupun infiks (Harimurti: 2009,
198)
Jika di lihat dari kata, Morfofonemik terdiri dari dua bagian
yaitu, morfo(morfologi) dan fonemik(fonemik). Jika kita lihat kajian fonemik
merupakan bagian dari fonologi yang mempelajari dari segi bunyi bahasa, baik
yang bersangkutan dengan pembentukan bunyi, bunyi sebagai getaran udara dan
bunyi bahasa yang terdengar dalam kajian fonetik dan bunyi bahasa dalam
komunikasi dalam kajian fonemik. Ada hubungan keterkaitan antara morfologi dan
fonemik. Dimana fonemik bidang yang di kaji adalah bunyi-bunyi ujaran dalam
fungsi sebagai pembeda makna dalam komunikasi sedangkan morfologi bidang yang
di kaji adalah pembentukan kata. Jadi morfologi mendapatkan bantuan dari
fonemik sehingga terbentuk perubahan suatu bunyi pada makna kata. Misalnya,
kata salip dan salib, dari segi fonem berbeda yaitu fonem b dan p. Dalam bunyi
bahasa sama tetapi dari segi makna berbeda. Misalnya lagi proses afiksasi
bahasa indonesia dengan prefiks me- akan berubah menjadi mem, meny, meng,
menge, atau tetap me-, menge, atau tetap me-, sesuai dengan aturan-aturan
fonologis.
Jika bentuk dasarnya mulai dari dengan konsonan /b/ dan /p/
maka prefiks me- itu menjadi mem- seperti kata membeli dan
memotong dengan bentuk dasarnya beli dan potong; jika
bentuk dasarnya konsonan /d/ dan /t/, maka prefiks me- itu akan menjadi
mem-, seperti pada kata mendengar dan menolong dengan kata dasar dengar
dan tolong dan lain sebagainya. Dalam bahaasa Arab proses morfofonemik
bisa kita lihat, misalnya penggabungan artikulus al- dengan bentuk dasar:
al + taqwa menjadi attaqwa, al + rahman menjadi arrahman dan
al + dhuha menjadi adhduha. Tetapi, al + hilal dan al +
komar tetap menjadi alhilal dan alkomar.
Menurut Abdul Caer dalam bukunya linguistik umum, perubahan fonem
dalam proses terjadinya morfofonemik di bagi beberapa bagian. Berikut
penjelasannya
1.
Pemunculan fonem, yakni pemunculan fonem dalam proses morfologi
yang awalnya tidak ada. Misalnya dalam
proses pengimbuan prefiks me- dengan kata dasar baca maka akan
muncul konsonan m yang semula tidak ada.
Me + baca menjadi membaca
2.
Pelesapan fonem, yakni hilangnya fonem dalam suatu proses
morfologi. Misalnya dalam proses pengimbuan prefiks pada dasar renang,
maka bunyi r yang ada pada prefiks ber di lesapkan, selain itu
pengimbuan prefiks pada kata dasar sejarah, dengan proses pengibuan
akhiran wan, maka huruf h di dengan kata dasr sejarah di
hialngkan.
Ber
+ renang yang asalnya berrenang
karena fonem r harus di lesapkan maka akan berubah menjadi berenang.
Sejarah
+ wan yang asalnya sejarahwan
karena fonem h harus di lesapkan maka akan berubah menjadi Sejarawan.
Anak
+ nda yang asalnya
jika di gabung menjadi Anaknda karena fonem k harus di hilangkan
maka berubah menjadi Ananda.
3.
Perubahan fonem, yakni berubahnya sebuah fonem atau sebuah
bunyi sebagai akibat dari proses
tejadinya morfologi. Misalnya proses perubahan prefiks ber- pada kata
dasar ajar di mana fonem r dari prefiks itu berubah menjadi fonem
l.
Ber
+ ajar yang asalnya berajar,
karena terjadi proses morfologi maka fonem r berubah menjadi l sehingga
menjadi belajar.
Ape
+ -an yang asalnya
jika di gabungkan menjadi apean karena terjadi proses morfologi maka
berubah menjadi apaan.
4.
Penggeseran fonem, yakni pemindahan sebuah fonem dari silabel yang
satu ke silabel yang lain, biasanya ke silabel berikutnya. Peristiwa itu dapat
kita lihat dalam bahasa indonesia dalam proses pengimbuan sufiks an pada
kata jsawab di mana fonem b yang semula berada pada silabel wab
pindah ke silabel ban. Juga dalam
proses pengimbuan sufiks i pada kata lompat di mana fonem t yang
semula berada pada silabel pat pindah ke silabel berikutnya ti.
Perhatikan
Jawab + -an
menjadi ja.wa.ban
Lom.pat + -i
menjadi lom.pa.ti.
5.
Peluluhan fonem yakni, luluhnya sebuah fonem yang di senyawakan
dengan fonem lain dalam proses morfologi. Misalnya, dalam pengimbuan me-
pada dasar sikat maka fonem s bisa di gantikan dengan fonem nasal
ny yang ada prefiks me.
Perhatiankan!!
Me + sikat menjadi Menyikat
Komentar
Posting Komentar