Langsung ke konten utama

Pemerolehan Bahasa Anak





Image result for pemerolehan bahasa anak
a.             TeoriKognitivistik                                                               
1.            Hakikat Teori Kognitivistik
Prerspektif kognitif adalah pandangan bahwa proses pikiran adalah inti dari perkembangan. Jean Piaget, seorang psikolog berkembangsaan Swiss, meneliti perkembangan kognitif anak-anak dengan mengamati dan berbincang dengan mereka di dalam berbagai lingkungan, menanyakan berbagai pertanyaan untuk mengetahui bagaimana pikiran bekerja. Dalam kognitifisme hipotesis kesemestaan kognitif yang diperkenankan oleh Piaget telah digunakan sebagai dasar untuk menjelaskan proses-proses pemerolehan bahasa kanak-kanak. Piaget sendiri sebenarnya tidak pernah secara khusus mengeluarkan satu teori mengenai pemerolehan bahasa karena beliau menganggap bahasa merupakan satu bagian dari perkembangan kognitif (intelek) secara umum. Para pengikut Piaget meluaskan teori pemerolehan bahasa dalam kognitifisme yang telah dirumuskan (Sinclair-de Zwart, 1963 via Chaer Abdul, 2009: 178).
Menurut teori yang didasarkan pada kesemestaan kognitif, bahasa diperoleh berdasarkan sturktur-struktur kognitif deriamotor. Struktur-struktur ini diperoleh kanak-kanak melalui interaksi dengan benda-benda atau sekitarnya (Chaer Abdul, 2009 : 178). Jean Piaget(1945) menyatakan bahwa bahasa bukanlah suatu ciri alamiah yang terpisah, melainkan salah satu di antara beberapa kemampuan yang berasal dari kematangan kognitif. Bahasa distruktur oleh nalar sehingga perkembangan bahasa harus berlandas pada perubahan yang lebih mendasar dan lebih umum di dalam kognisi.  Jadi, urutan perkembagan kognitif menentukan urutan perkembangan bahasa (Chaer Abdul, 2009: 223).
 Piaget mendeskripsikan perkembangan menyeluruh sebagai hasil interaksi komplementer antara kapasitas kognitif perseptual, pengembangan anak, dan pengalaman kebahasaannya. Memperoleh bahasa bukanlah menerima pemberian, tetapi proses mencari yang dilakukan dalam konteks nyata, menantang, dan berulang (Suhartono, 2011 : 4.11). Ketidakpuasan pada behavorisme dalam mencoba menjelaskan proses pemerolehan  bahasa, melahirkan aliran trasnformasi generatif, tahun 60-an. Tokoh aliran ini adalah Noam Chomsky yang mencoba menunjukkan bahwa bahasa tidak dapat diteliti secara cermat hanya hubungan dengan stimulus dan respon yang diamati melalui data kasar yang dikumpulkan oleh penelitian lapangan (Suhartono, 2011: 4.9).
Chomsky pernah menyanggah konsep kognitivisme dari Piaget yang menyatakan bahwa mekanisme umum dari perkembangan kognitif tidak dapat menjelaskan struktur bahasa kompleks, abstrak, dan khas itu. Begitu juga lingkungan berbahasa tidak dapat menjelaskan struktur yang muncul di dalam bahasa anak. Oleh karena itu, menurut Chomsky, bahasa (struktur atau kaidahnya) haruslah diperoleh secara alamiah (Chaer Abdul, 2009: 224). Namun, pada akhirnya pendapat antara Piaget dan Chomsky sama yang menjelaskan bahwa lingkungan tidak memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan intelektual anak. Akan tetapi perubahan dan perkembangan bahasa anak tergantung terlibatnya anak secara aktif dalam lingungannya. Menurut kaum kognitif, manusia bukanlah botol kosong yang dapat diisi semau-mau kita. Manusia adalah organisme yang memiliki potensi-potensi. Teori ini yakin bahwa anak sejak lahir telah dikaruniai piranti pemerolehan bahasa (Suhartono, 2011: 4.10)
2.             Perkembangan Kognitif
Dari sekian banyak kajian tentang proses berfikir pada anak-anak dalam usia yang berbeda-beda. Piaget menyatakan ada beberapa tahap dalam perkembangan kognitif anak :
a)             Tahap Sensomotorik 0-2 tahun

Tahap Sensomotorik merupakan tahap pertama dalam perkembangan dan berlangsung pada usia 18 bulan. Pada tahap ini dianggap bahwa bayi belum ada bahasa karena bayi belum menggunakan lambang-lambang untuk menunjuk benda-benda sekitarnya. Pada tahap ini anak-anak memahami dunianya melalui inderanya (sensory) dan gerak kegiatannya yang dilakukan (motor). Anak hanya mengenal benda jika benda itu dialaminya langsung. Saat benda itu hilang dari penglihatannya, dianggap benda itu tidak ada lagi. Pada tahap ini  biasanya anak suka dengan permainan ci luk ba (Suhartono, 2011 : 4.12). Tak lama sesudah lahir, seorang bayi akan menghabiskan waktunya antara 14 sampai 18 jam untuk tidur dan kemudian berangsur-angsur berkuranga. Usia 3-4 bulan bayi sudah mampu duduk sebentar( sekitar satu menit) dengan bantuan orang dewasa. Usia 7-8 bulan bayi mampu duduk sendiri tanpa bantuan orang dewasa. Usia 7 bulan mampu merangkak dan sebulan kemudian berdiri berpegangan pada kursi. Usia 11 bulan mampu berdiri sendiri dan 13 bulan sudah mampu berjalan sendiri (Chaer Abdul, 2011 : 225).
b)            Tahap Praoperasional (2- 7 tahun)
Pada tahap ini cara berfikir anak  masih didominasi oleh cara-cara bagaimana hal-hal atau benda-benda itu tampak. Cara berfikirnya masih operasional. Kanak-kanak belum bisa menyadari bahwa jumlah benda akan tetap sama meskipun bentuk atau pengaturannya berubah. Cara berfikir anak yang dominan pada hal yang tampak itu juga terjadi dalam tahap perkembangan cara berbahasanya. Anak mungkin akan melakukan penggelembungan makna secara berlebihan atau sebaliknya malah melakukan penyempitan makna yang berlebihan (Suhartono, 2011: 4.13). Tahap praoperasional dapat dibedakan atas dua bagian. Pertama, tahap prakonseptual (2-4 tahun), dimana representasi suatu obyek dinyatakan dengan bahasa, gambar dan permainan khayalan. Kedua, tahap intuitif (4-7 tahun). Pada tahap ini representasi suatu obyek didasarkan pada persepsi pengalaman sendiri, tidak kepada penalaran (Hosna Rofiatul, 2013: 42).
c)            Tahap Operasional Konkret (7-12 tahun)
Pada tahap ini, anak-anak ketika diberi pertanyaan sudah bisa menjawab dengan benar. Akan tetapi tidak bisa menjelaskan alasan dari jawabannya. Untuk  ‘’menyuapi’’ masukan bahasa pada anak usia perkembangan operasional konkret ini lingkungan orang dewasa sebaiknya memperkaya pajanan (exposure)di sekitar anak. Usaha sengaja memperkenalkan anak-anak dengan beragam peristiwa dan pengalaman akan sangat membantu pemahaman anak terhadap bahasa sasaran. Sebaliknya, penyusunan rumus-rumus ‘’teori’’ bahasa tidak akan banyak membantu mereka (Suhartono, 2011: 4.14).
d)            Tahap Operasional Formal (11-12)
Penelitian Piaget menyatakan bahwa mulai usia 12 tahun, anak sudah mampu berfikir logis  sebagaimana orang dewasa. Selama periode oeprasional formal ini, anak-anak mulai menggunakan aturan-aturan formal dari fikiran dan logika untuk memberikan dasar kebenaran jawaban-jawaban mereka. Mereka mampu merumuskan dan mengeteskan hipotesis-hipotesis yang rumit; mereka berfikir abstrak;  dan mereka menggeneralisasikan dengan menggunakan konsep yang abstrak, dari satu situasi ke situasi yang lain(Morgan dalam Chaer, 2011: 229).
b.            Teori Kontrukstivisme
Kontruktivisme sebenarnya sudah ada  jauh sebelumnya, dipelopori Decrates bangkit kembali pada era 80-an dan awal tahun 2000 dipelopori Jean Piaget dan Lev Vygotsky. Kontruktivisme berpendapat bahwa manusia mengonsumsi sendiri pengetahuan yang diperolehnya berdasarkan pada skema/prior knowledge yang dimilikinya. Oleh sebab itu, kemajemukan cara memperoleh pengetahuan dan memerikan sesuatu sah adanya. Kontruktivisme sangat menghargai kemajemukan  dan tidak menyarankan keseragaman. Kaum kontruktivis berfikir lebih jauh dari pada kognitivisme dan rasionalis dalam hal penekanannya pada kemampuan tiap-tiap individu untuk mengkonstruksi pengetahuan yang diperolehnya. Menurut teori konstruktivistik perbedaan individu yang dapat berbentuk perbedaan latar belakang, minat, kebiasaan, obsesi, gaya belajar, dan strategi memperoleh merupakan komponen penting dalam proses pemerolehan bahasa (Suhartono, 2011: 4.12).
Teori Kontruktivisme Piaget menjelaskan bahwa pengetahuan adalah bentukan orang itu sendiri. Proses pembentukan pengetahuan itu terjadi apabila seseorang mengubah atau mengembangkan skema yang telah dimiliki dalam berhadapan  dengan tantangan, dengan rangsangan atau persoalan. Pengetahuan pada teori ini akan dibangun sendiri oleh pembelajar berdasarkan pengetahuan ada pada mereka. Makna pengetahuan, sifat-sifat pengetahuan dan bagaimana seseorang menjadi tahu dan berpengetahuan, menjadi perhatian penting dalam aliran kontrukstivisme (Hosna, 2013:  46).
Berdasarkan keterangan di atas sudah jelas bahwa pembelajaran bahasa pada anak-anak didapat interaksi social dari aktivitas individu yang dibangun dari pengetahuan, pengalaman mereka sendiri. Bahasa yang diperoleh pada teori ini ialah tindakan mencipta makna dari apa yang dipelajari. Selain itu anak-anak memperoleh bahasa dari pembelajaran secara formal.
Piaget dan Vygotsky sama-sama menyatakan dirinya sebagai seorang konstruktivis mempunyai pandangan yang berbeda tentang penekanan peranan konteks social dalam mengontruksi pengetahuan, termasuk pengetahuan kebahasaan. Piaget menekankan pentingnya perkembangan kognitif individual sebagai tindakan soliter yang relatif. Sedangkan Vygotsky menekankan bahwa interaksi social merupakan dasar yang sangat penting. Vygotsky menolak nosi tahap perkembangan yang telah ditentukan sebelumnya. (Suhartono, 2011: 4.14).
Para peneliti pembelajaran bahasa telah mendemonstrasikan perspektif konstruktivisme melalui penelitian wacana percakapan, factor sosiokultural dalam pembelajaran, dan teori interaksionis. Dalam banyak hal, perpektif kontruktivis merupakan suksesi alamiah atas kajian kognitivis atas tata bahasa universal, pemrosesan informasi, memori, intelegensi artifisial, dan sistematisitas interlanguage. Dengan munculnya konstruktivisme dalam dunia psikologi dan struktur ingatan. Penelitian bahasa anak-anak mulai memusatkan perhatiannya pada bagia linguistic yang paling rawan, yakni fungsi bahasa dalam wacana. Gelombang baru ini merupakan revolusi penelitian pemerolehan bahasa. Jantung bahasa fungsi komunkatif sampai dengan segala varibilitasnya (Ardiana via Suhartono, 2011: 4.15).
Kontruktivisme memberikan dua kata kunci dalam menjelaskan proses pemerolehan bahasa, yaitu tahapan perkembangan kognitif dan interaksi social yang bermakna. Kemunculan konstruktivisme menimbulkan pergeseran kea rah yang lebih dalam tentang hakikat bahasa. Penekanan muncul pada (1) padangan bahwa bahasa merupakan perwujudan kognitif dan afektif untuk menyiasati dunia, untuk berkomunikasi dengan orang lain, dan juga untuk diri sendiri; serta (2) kajian tentang bahasa menjadi pumpunan para penganut fungsional (Suhartono, 2011: 4.20).
Pembentukan pengetahuan menurut Jean Piaget memandang subyek aktif menciptakan sturktur-struktur kognitif dalam interaksinya dengan lingkungan. Dengan bantuan struktur kognitifnya ini, subyek menyusun pengertian realitasnya. Interaksi kognitifnya akan terjadi sejauh real;itas tersebut disusun melalui struktur kognitif yang diciptakan oleh subyek itu sendiri.  Struktur kognitif senantiasa harus diubah dan disesuaikan berdasarkan tuntutan lingkungan dan organisme yang sedang berubah. Proses penyesuain diri terjadi secara terus menerus melalui rekontruksi. Proses mengkontruksi, sebagaimana dijelaskan Jean Piaget adalah sebagai berikut:
Sejak kecil anak sudah memiliki struktur kognitif yang kemudian dinamakan skema(schema). Skema terbentuk karena pengalaman. Misalnya, anak senang bermain dengan kucing dan kelinci yang sama-sama berbulu putih. Berkat keseringannya, ia dapat menangkap perbedaan keduanya, yaitu bahwa kucing berkaki empat dan kelinci berkaki dua. Pada akhirnya pengalaman itulah dalam struktur kognitif anak terbentuk skema, tentang binatang berkaki empat dan binatang berkaki dua.Semakin dewasa anak, maka semakin sempurnalah skema yang dimilikinya. Proses penyempurnaan skema dilakukan melalui proses asimilasi dan akomodasi (Hosna, 2013:  49).
Asimilasi adalah pemaduan data baru dengan struktur kognitif yang ada. Atau proses kognitif di mana seseorang mengintegrasikan persepsi, konsep ataupun pengalaman baru ke dalam skema atau pola yang sudah ada dalam pikirannya. Asimilasi adalah salah satu proses individu dalam mengadaptasikan dan mengorganisasikan diri dengan lingkungan baru. Akomodasi adalah penyesuaian struktur kognitif terhadap situasi baru. Dalam perjumpaan individu dengan lingkungan, akomodasi menyertai asimilasi. Terkadang, ketika dalam menghadapi rangsangan atau pengalaman baru, seseorang tidak dapat mengasimilasikan pengalaman baru dengan skema yang  telah ia punyai. Akomodasi terjadi untuk membentuk skema baru yang cocok dengan rangsangan yang baru atau memodifikasi skema yang telah ada sehingga cocok dengan rangsangan itu. Bila dalam proses asimilasi seseorang tidak dapat mengadakan adaptasi terhadap lingkungannya maka terjadilah ketidakseimbangan(disequilibrum). Akibat ketidakseimbangan itu maka tercapailah akomodasi dan struktur kognitif yang ada yang akan mengalami atau munculnya struktur yang baru.Pertumbuhan intelektual ini merupakan proses terus-menerus tentang keadaan ketidakseimbangan dan keadaan setimbang(disequilibrium-equilibrium)(Hosna, 2013:  49).
Seperti Piaget, Vygotsky menekankan bahwa anak-anak secara aktif menyusun pengetahuan mereka. Akan tetapi menurut Vygotsky, fungsi-fungsi mental memiliki koneksi-koneksi sosial. Vygotsky berpendapat bahwa anak-anak mengembangkan konsep-konsep lebih sistematis, logis, dan rasional sebagai akaibat dari percakapan dengan seorang penolong yang ahli.
1.         Konsep Zona Perkembangan Proksima (ZPD)
Zona Perkembangan Proksima adalah istilah Vygotsky untuk rangkaian tugas yang terlalu sulit dikuasai anak seorang diri tetapi dapat dipelajari dengan bantuan dan bimbingan orang dewasa atau anak-anak yang terlatih. Batas bawah dari ZPD adalah tingkat keahlian yang dimiliki anak yang bekerja secara mandiri. Batas atas adalah tingkat tanggung jawab tambahan yang dapat diterima oleh anak dengan bantuan seorang instruktur.
2.         Konsep Scaffolding
Scaffolding ialah perubahan tingkat dukungan. Scaffolding adalah istilah terkait perkembangan kognitif yang digunakan Vygotsky untuk mendeskripsikan perubahan dukungan selama sesi pembelajaran, dimana orang yang lebih terampil  mengubah bimbingan sesuai tingkat kemampuan anak. Dialaog adalah alat yang penting dalam ZPD. Vygotsky memandang anak-anak kaya konsep tetapi tidak sistematis, acak dan spontan, Dalam bidang dialog, konsep-konsep tersebut dapat dipertemuan dengan bimbingan yang sistematis, logis dan rasional(Hosna, 2013:  52).
DAFTAR PUSTAKA
Chaer Abdul, 2011. Psikolinguistik Kajian Teoritik. Jakarta: Rineka Cipta
Dardjowidjojo, 2005. Psikolinguistik Pengantar Pemahaman Bahasa Anak. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia
Hosna Rofiatul dan Samsul. The Art of Learning. Jombang: MULTAZAM-JOMBANG
Suhartono, 2011. Psikolinguistik. Jakarta. Universitas Terbuka

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Biografi

Ahmad Tohari Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Belum Diperiksa Ahmad Tohari Ahmad Tohari , (lahir di Tinggarjaya, Jatilawang,  Banyumas ,  Jawa Tengah ,  13 Juni   1948 ; umur 65 tahun) adalah  sastrawan Indonesia . Ia menamatkan  SMA  di  Purwokerto   [1]  . Namun demikian, ia pernah mengenyam bangku kuliah, yakni Fakultas Ilmu Kedokteran Ibnu Khaldun,  Jakarta ( 1967 - 1970 ), Fakultas Ekonomi  Universitas Jenderal Soedirman ,  Purwokerto  ( 1974 - 1975 ), dan Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik  Universitas Jenderal Soedirman  (1975- 1976 ). Dalam dunia jurnalistik, Ahmad Tohari pernah menjadi staf redaktur harian  Merdeka , majalah  Keluarga  dan majalah  Amanah , semuanya di  Jakarta . Dalam karier kepengarangannya, penulis yang berlatar kehidupan  pesantren  ini telah melahirkan  novel  dan kumpulan cerita pendek....

Kata Bijak

Kata Bijak kedewasaan bukan di nilai sebarapa ilmu yang  dapat kau kuasa tapi lebih ke pemikiran idealis dan tindakan/ tingkah laku yang positif dan tidak kekanak-kanakan By: Magfirrah Sinar Al hayya Alloh menciptakan manusia itu sama yang membuat tidak sama hanyalah manusia itu sendiri yang tak mampu menggunakan akalnya untuk berfikir. bijaklah dengan apa yang ingin kau kerjakan, pilih-pilih dulu sari kemanfaatan yang terkandung didalamnya sebelum akhirnya terbuang dengan percuma Ketika seseorang mengingatkan dirimu  untuk cepat-cepat melaksanakan ibadah, dan kamu marah, sebenarnya kamu marah dengan Alloh  karena orang tersebut di beri petunjuk oleh Alloh untuk mengingatkanmu untuk cepat datang memenuhi Panggilan Alloh. Orang yang mempunyai ilmu tinggi di katakan ia berkualitas dan cedikia  bisa di lihat dari kecakapan  ia menggunakan bahasa yang idealis dan komuikatif. Ketika ia berbicara, mampu berkomunikasi dengan baik kepada siapapun ta...

Peluang Besar Gaya Hidup Halal di Indonesia

Gaya hidup adalah pola tingkah laku manusia yang diekspresikan dalam aktivitas, minat, dan opininya. Gaya hidup menggambarkan seluruh pola seseorang dalam beraksi dan berinteraksi dengan lingkungannya. Hal itu berkenaan dengan bagaimana orang menghabiskan waktunya, apa yang penting untuk dipertimbangkan pada lingkungan, dan apa yang orang pikirkan tentang diri sendiri dan dunia di sekitarnya.   Halal adalah segala sesuatu yang diperbolehkan oleh syariat untuk dikonsumsi. Kriteria halal yaitu halal zat, halal cara memperolehnya, halal cara pengolahannya. Halal tidak selalu dititik beratkan dengan makanan, tetapi sudah merambah dalam berbagai bentuk elemen kehidupan. Esensi halal bukan sekedar dibolehkan atau sah menurut hukum Islam tetapi apapun yang kita lakukan atau kita konsumsi harus murni, bersih, menyehatkan dan dapat dibenarkan oleh moral. Jadi,   gaya hidup halal adalah pola tingkah laku manusia dalam apapun aktivitasnya atau kegiatannya dilakukan secara halal....