BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Menurut Plato sastra merupakan cerminan dari masyarakat, maksudnya sastra berperan untuk mengulas kembali realitas-realitas yang terjadi di tengah-tengah masyarakat dalam sebuah tulisan dan bahasa sebagai medianya. Karya sastra yang hebat adalah karya sastra yang mampu mengangkat realitas budaya yang kental dengan konflik, kemudian di racik dan di kemas dengan bahasa yang indah dengan tujuan untuk membuka fikiran pembaca tentang apa yang benar-benar terjadi di tengah-tengah masyarakat.
Seorang ahli sosiologi berbicara mengenai struktur maka ia berbicara mengenai sesuatu yang terdiri atas bagian yang saling tergantung dan membentuk suatu pola tertentu. Bagian itu bisa terdiri atas, pola perilaku individu atau kelompok, institusi, maupun masyarakat. Sama halnya dengan karya sastra memiliki struktur-struktur yang saling tergantung antara satu dengan yang lain dan tidak dapat di pisahkan. Contoh-contoh struktur-struktur karya satra yang tidak dapat di pisahkan yaitu, tema, alur, setting, tokoh, penokohan yang saling berkaitan, dan ketika salah satu tidak ada maka, akan terjadi ketidakteraturan dalam karya sastra.
Cerpen’’Jakarta 2030’’ merupakan karya dari Marti Alieda yang bagus jika di analisis dengan menggunakan teori strukutralisme genetik. Karena dalam cerpen tersebut menceritakan tentang realitas-realitas sosial yang ada dalam masyarakat khususnya di Jakarta. Dimana telah terjadi perubahan-perubahan yang terjadi di tengah masyarakat dan ini merupakan fakta kepmanusiaan dan aktivitas manusia yang perlu di analisis. Dari judulnya’’Jakarta 2030’’ , jadi penulis memikirkan apa yang terjadi ke depan tahun 2030 dengan kondisi Jakarta yang carut marut tatanan sosial. Dimana banyak terjadi gradasi moral yang mampu menggeser tatanan struktur sosial sehingga terjadi ketidakteraturan sosial. Sekilas dari cerpen ini menceritakan tentang struktur sosial masyarakat yang tidak berjalan dengan baik. Penguasa berkuasa dengan semena-mena, kejahatan-kejahatan merajalela, kota seperti bau bangkai, banyak demotrasi-demonstrasi. Hal itulah yang melatar belakangi keinginan untuk menganalisis cerpen ini.
Dari sejumlah pendekatan satra yang mendasarkan pada struktur merupakan pendekatan strukturalisme genetik yang paling menghasilkan teori. Pendekatan struktur sebenarnya ada sejak jaman Yunani yang telah di oleh Aristoteles dengan konsep Wholneesp, unity, complexity, dan coheren (baca Aristoteles, terj, Ingram By-water, 1954:223,’ Teeuw, 1984: 120-122). Namun perkembangan strukturalisme sastra secara pesat baru pada abad 20. Secara teoritik, strukturalisme genetik menyatukan antara analisi struktural karya sastra dengan analisis sosiologis terhadap karya sastra.
1.2 Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas masalah yang dapat di kaji adalah :
1. Bagaimana hubungannya teori strukturalisme genetik dengan cerpen’’Jakarta 2030’’ karya Martin Alieda
2. Bagaimana fakta kemanusiaan dalam cerpen’’Jakarta 2030’’ karya Martin Alieda
1.3 Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah di atas maka yang menjadi tujuan dari analisis ini adalah
1. Untuk mengetahui ada hubungan antara teori strukturalisme genetik dengan cerpen ‘’Jakarta 2030’’ karya Martin Alieda
2. Untuk mengetahui fakta kemanusiaan dalam cerpen’’Jakarta 2030’’ karya Martin Alieda
BAB 11
KAJIAN TEORI
1.2 Kajian Teori
Dalam KBBI struktur adalah cara sesuatu yang di susun dan di bangun dan strukturalisme adalah gerakan linguistik yg berpandangan bahwa hubungan antara unsur bahasa lebih penting dp unsur itu sendiri, satu-satunya objek bahasa adalah sistem bahasa, dan penelitian bahasa dapat dilakukan secara sinkronis. Sedangkan dalam kamus sosiologi strukturalisme adalah struktur sosial yang tidak terlihat tetapi menurunkan gejala-gejala yang dapat di amati. Menurut Faruk, karya sastra adalah sebuah struktur yang bersifat dinamis karena merupakan produk sejarah dan budaya yang berlangsung secara terus-menerus.
Lucien Goldmann adalah orang yang mengembangkan fenomena hubungan antara sastra dengan masyarakat dengan teorinya yang dikenal dengan strukturalisme dan mencoba untuk menyatukan analisis struktural dengan materialisme historis dan dialektika, baginya karya sastra harus di pahami sebagai totalitas yang bermakna (Damomo, 1979: 43). Kedinamisan struktur sastra ini berbentuk karena relasi genetiknya, yaitu hubungan dialektis antara penulis dengan masyarakat, penulis adalah individu yang menjadi anggota masyarakat (Kurniawan, 2012: 103).
Strukturalisme-genetik Goldmann merupakan pendekatan satra yang bergerak dari teks sebagai fokus yang otonom menuju faktor-faktor yang bersifat ekstrinsik di luar teks, yaitu penulis sebagai subyek kolektif suatu masyarakat. Konsep Goldmann ini di pengaruhi oleh teori sosial satra Marx yang mengkonsepsikan (1) satra merupakan sebuah fenomena zaman (2) satra merupakan refleksi kehidupan pengarang pada masanya (3) sastra merupakan produk eksternal yang dipengaruhi oleh latar belakang sejarah dpan sosial tertentu. Struktalisme genetik merupakan perpaduan antara strukturalisme dan marxis. Ketiga aspek di atas menunjukkan prespektif faktor determinasi penulis dan masyarakat terhadap karya yang mempengaruhi teori sturukturalisme genetik.
Strukturalisme genetik memiliki implikasi yang lebih luas dalam kaitannya dengan perkembangan ilmu-ilmu kemanusian pada umumnya. Sebagai seorang strukturalis, Goldmann sampai pada kesimpulan bahwa struktur mesti di sempurnakan menjadi struktur yang bermakna, dimana setiap gejala memiliki arti apabila di kaitkan dengan struktur yang lebih luas, demikian seterusnya sehingga setiap unsur menopang totalitasnya (Ratna, 2013 : 122). Sebagai produk fakta sosial, sastra merupakan struktur yang memiliki arti tertentu, sehingga memahami sastra sebagai produk fakta kemanusiaan harus mempertimbangkan struktur dan artinya. Untuk mendukung teori-teorinya Goldman membangun kategori-kategori yang saling berkaitan yaitu :
1. Fakta kemanusiaan
Fakta kemanusian merupakan hasil dari aktivitas-aktivita manusia dan perilaku manusia yang dapat jelas dipahami atau dengan kata lain semua aktivitas manusia dan perilaku manusia baik verbal maupun fisik.
2. Subyek kolektif
Menurut Goldman, fakta kemanusiaan di bagi menjadi dua yaitu, fakta sosial dan fakta individual. Fakta sosial merupakan fakta kemanusian yang mempunyai peran dalam sejarah dan kehidupan sosial masyarakat. Fakta individual adalah bersifat individual, libidinal, dan mampi sehingga tidak berpengaruh dalam kehidupan masyarakat.
3. Pandangan Dunia
Pandangan Dunia merupakan sesuatu yang komprehensif dan menyeluruh yang berwujud ide-ide, gagasan-gagasan, aspirasi-aspirasi, dan perasaan-perasaan yang menghubungkan secara bersama-sama antarindividu dan anggota satu kelompok tertentu dan mempertentangkannya dengan kelompok sosila lain. Pandangan Dunia sebagai penyatu kelompok sosial antara suatu struktur gagasan dan aspirasi.
4. Struktur Karya sastra
Karya sastra mempunyai struktur yang koheren dan terpadu. Menurut Goldman bahwa semua karya penelitian di pusatkan pada elemen kesatuan, pada usaha menyikapi struktur yang koheren yang terpadu yang mengatur semesta keseluruhan karya sastra.
5. Dialektika, Pemahaman dan Penjelasan
Dalam prespektif strukturalisme genetik merupakan sebuah struktur koheren yang memiliki makna. Dalam memahami makan Goldman mengembangkan metode dialektik. Metode dialektik mengembangkan dua pasangan konsep yaitu, keseluruhan-bagian, dan pemahaman-penjelasan. Karya sastra erkaitan dengan usaha manusia memecahkan persoalan-persoalan dalam kehidupan sosial nyata.
BAB 111
PEMBAHASAN
Cerpen berjudul’’ Jakarta 2030’’ karya Martin Alieda merupakan kumpulan cerpen Indonesia. Cerpen ini menceritakan carut marut tatanan ketatanegaraan, pola hidup sosial masyarakat, yang membuat struktur sosial masyarakat ambruradul. Penulis seolah-seolah menggambarkan apa yang benar-benar terjadi di kota Jakarta. Strukturalisme genetik hadir untuk menjawab semua realitas-realitas yang ada di tengah-tengan masyarakat . Dalam cerpen ’’Jakarta 2030’’ akan di analisis dengan menggunakan teori strukturalisme genetik dengan fokus kajianya pada teori-teori Goldman dengan kategori-kategori seperti fakta kemanusiaan, subyek kolektif, pandangan dunia, struktur karya sastra dan dialektika pemahaman dan penjelasan.
Kota Jakarta sebagai ibukota, yang tatanan ketatanegaraannya selalu di sorot publik yang telah menjadi incaran oknum-oknum jail yang mementingkan hedonisme. Jakarta yang di anggap sebagai pusat lubung pekerjaan seolah seperti buangan sampah yang setiap hari harus di isi. Perubahan sosial yang terjadi di tengah masyarakat ini di sebabkan adanya arus globalisasi, mordenisasi dan westernalisasi yang mampu mengubakh aktivitas dan pola tingkah laku manusia. Seperti kutipan cerpen’’Jakarata 2013’’.
BONGKAH emas yang menengger di puncak Monumen Nasional sudah lama ditakik dan disingkirkan dari tempat duduknya. Dia digelindingkan begitu saja di daratan. Tak lebih berharga dari segundukan tanah merah. Emas sudah tak bisa mempertahankan kemuliaannya di atas besi atau timah. Anak-anak saja sudah bermain-main dengan lempengan-lempengan emas yang mereka ciptakan dari adonan kimia. Kesemarakan dan lambang kekuasaan sudah berubah makna, paling tidak di kota ini(Kumpulan Cerpen Indonesia, 2006: 43)
Dari kutipan cerpen di atas terjadi perubahan sosial yang menyebabkan bergesernya identitas masyarakat indonesia berubah menjadi jiwa pola perilaku masyarakat asing. Jiwa keaslian maryarakat indonesia telah memudar. Di atas menggambarkan bahwa emas yang mungkin sebagian orang sangat beharga tapi di dalam cerpen ini sesuatu yang tidak beharga lagi. Hal ini di sebabkan karena aktivitas manusia yang cenderung memikirkan keduniawian sehingga sesuatu yang beharga menjadi tidak beharga lagi. Fakta kemanusiaan merupakan prinsip pertama dalam teori strukturalisme genetik. Fakta kemanusiaan melibatkan aktivitas manusia, perilaku manusia, baik di ranah masalah ekonomi, politik, agama, maupun sosial, ini akan mengalami perubahan, baik perubahan secara positif maupun negatif. Kutipan cerpen di atas merupakan fakta kemanusiaan yang terjadi di kota Jakarta.
Selain kutipan cerpen di atas yang merupakan fakta kemanusia lain terlihat pada paragraf yang berbunyi
Jakarta terkurung dalam kutukan karena kejahatan kemanusiaan yang didewakan selama lebih dari tiga dasawarsa menjelang akhir abad keduapuluh. Ingatan kolektif penduduknya bisa lenyap. Tetapi, zaman tak pernah akan lupa bahwa pada waktu itu ratusan ribu orang dibunuh seperti tikus comberan. Anak-anak muda yang ganteng dan manis-manis, yang bercita-cita sangat sederhana, hanya sekedar untuk bisa meludah karena tak tahan mencium bau amis para penguasa yang durjana, diculik dan dilenyapkan rezim bersenjata. Mereka yang membunuh dan menculik tak pernah merasa bersalah. Hukum buat mereka hanyalah angin yang dengan gampang bisa ditepis( Kumpulan Cerpen Indonesia, 2006: 43)
Kutipan cerpen di atas juga menceritakan tentang histori yang di bandingkan realitas. Dan ini terjadi perbedaan yang sangat mencolok, karena jika di lihat zaman dahulu ketika Indonesia masih di jajah negara asing, para pahlawan rela bekorban tanpa mengharap sesuatu, bekorban sampai titik darah penghabisan. Namun jika di lihat realitas sekarang banyak anak muda yang tidak mau melanjutkan kepahlawanan seperti pahlawan terdahulu. Jadi sastra adalah produk fakta kemanusiaan yang bersifat sosial karena keberadaan sosial sastra sebagai produk aktivitas manusia yang dapat mempengaruhi kehidupan masyarkat. Sastra mampu mengangkat fenomena-fenomena yang sebelumnya tidak tahu menjadi tahu karena sastra dengan media bahasa seolah-olah berkomunikasi dan berdiskusi dengan pembaca masalah realitas masyarakat.
Perubahan sosial yang bisa di sebabkan oleh aktivitas dan pola hidup manusia tidak hanya akan menyebabkan perubahan di aspek tertentu saja, akan tetapi akan merubah semua aspek kahidupan masyarakat. Tentunya akan merubah struktur sosial masyarakat. Ketidakteraturan masyarakat menyebabkan tergesernya nilai-nilai hidup ciri khas rakyat indonesia. Menurut Goldman, struktualisme genetik berpandangan bahwa karya sastra sebuah struktur yang bersifat dinamis karena merupakan produk sejarah dan budaya yang berlangsung secara terus menerus. Karya satra pada dasarnya di ciptakan penulis hakikatnya merupakan hasil usaha manusia untuk mencapai keseimbangan yang lebih baik dalam hubungan dengan dunia sekitarnya. Hal-hal realitas yang terjadi di kota Jakarta yaitu, kesemarakan dan lambang kekuasaan sudah tidak bermakna. Artinya terjadi kekosongan kekuasaan, pejabat menggunakan kekuasaanya dengan semena-mena. Kelas sosial atas menindas kelas sosial bawah, para penguasa dengan rakyat kecil. Hal ini mengacu pada strukturalisme genetik yaitu gabungan dari strukturalisme dengan marxisme. Kelas-kelas sosial tidak perlu di definisikan kedalam pertentangan dan eksploitasi tetapi kelas-kelas sosial adalah kolektivitas yang menciptakan gaya hidup tertentu, dengan struktur yang ketat dan koheren.
Struktur karya sastra hakikatnya adalah sastra yang berisi seperangkat gagasan yang sistemik mengenai cara memahami atau mengetahui kenyataan masyarakat, dan sebagaimana yang menjadi ciri utama sturkturalisme, struktur gagasan dalam sastra itu bersifat padu dan sistemik. Fakta kemanusian yang secara implisit tergambar secara jelas, bahwa fakta kemanusian yang menurut Goldman, untuk mencapai keseimbangan yang lebih baik dalam hubungan dengan dunia sekitarnya(masyarakat), jika hubungan antara relasi struktur tidak padu dan sistemik maka akan berdampak negatif.
Subyek kolektif merupakan bagian dari fakta kemanusiaan. Tindakan manusia yang memiliki dampak sosiologis hakikatnya merupakan produk subyek kolektif atau transindividual karena ia bertindak dalam konteks relasinya dengan orang lain, dan tindakannya juga berdampak terhadap kehidupan orang lain sebagai anggota masyarakat. Oleh karena itu, saat penulis menulis karya sastra, sekalipun terkesan individual, sesungguhnya yang ia ciptakan adalah produk subyek kolektif karena sastra yang di ciptakan berkaitan dengan hubungan relasional dirinya dengan orang lain dan sistem yang ada di masyarakat, dan setelah jadi, sastra sendiri bisa mempengaruhi sistem kehidupan masyarakat(kurniawan, 2012: 106). Hal ini bisa di lihat dari kutipan cerpen berikut :
Mereka yang membunuh dan menculik tak pernah merasa bersalah. Hukum buat mereka hanyalah angin yang dengan gampang bisa ditepis. Orang yang seharusnya bertanggung jawab dengan lihai menghindar dari hukuman sambil meluncur-luncur di atas kursi roda. Ngelencer kesana-kemari. Amanaman saja dengan berpura-pura kena encok (kumpulan cerpen indonesia, 2006: 43)
Kutipan cerpen di atas secara implisit menggambarkan tentang sistem hukum yang tidak berfungsi sehingga mempengaruhi sistem kehidupan masyarakat. Hukum yang fungsinya untuk memutuskan permasalahan tidaklah berfungsi. Hal ini secara tersirat menggambarkan tentang pola perilaku hedonisme kaum penguasa.
Dalam Kumpulan Cerpen Indonesia ini memang tokoh secara implisit tidak tampak tapi secara eksplisit tokoh dalam cerpen ‘’Jakarta 2030’’ adalah kaum masyarakat bawah dengan penguasa. Tokoh antara kaum masyarakat bawah dan penguasa merupakan subyek kolektif sebab ada kelas sosial seperti teori Marxis karena kelompok sosial yang telah menciptakan suatu pandangan yang lengkap dan menyeluruh mengenai kehidupan tatanan kehidupan masyarakat.
Gubernur kota merasa telah menemukan kebijakan yang cemerlang dalam upayanya untuk membuat jasad mereka yang tersisih tidak menyebabkan bau busuk yang menyengat kota. Sepuluh detik setelah meninggal, jasad orang-orang tersisih ini sudah dikerek ke pelataran pemusnahan yang dibangun di puncak Monumen Nasional. Gubernur dan para pembantunya beranggapan sama sekali tidak masuk akal membiarkan mayat berbulan-bulan supaya membusuk dan dimakan belatung di puncak monumen(kumpulan cerpen indonesia, 2006:44).
Dari kutipan cerpen di atas bahwa kelas sosial atas, yang mempunyai kekuasaan tertinggi dan mampu berbuat apa saja terhadap kelas sosial bawah. Melihat keadaan seperti itu maka, ada pihak yang menentang keadaan tersebut. Mereka yang menentang membuat aspirasi, gagasan, perasaan-perasaan yang menghubungkan secara bersama-sama mempertentangkan situasi tersebut. Nah hal ini bisa di sebut dengan pandangan dunia. Jadi pandangan dunia merupakan produk interaksi antara subyek kolektif dengan situasi tertentu. Dalam cerpen ini di gambarkan dengan metaforis seratus ekor burung Gazgazammut yang melakukan demonstrasi menentang kebijakan penguasa yang membuat kotanya berubah menjadi terkurung, tersisihkan.
Seekor dari seratus burung Gazgazammut itu, sambil tegak di atas cakarnya yang kokoh, dengan sayap setengah terentang, mengalunkan suara: "Kita telah dibawa ke kota yang sedang tenggelam dan terkurung ini untuk dijadikan perangkat pemisah antara manusia yang beruntung dan yang tersisihkan(kumpulan cerpen indonesia, 2006: 45)
Alieda pencipta cerpen ‘’Jakarta 2030’’ mencoba memberitahukan kepada pembaca tentang persoalan-persoalan yang tengah terjadi di masyarakat kota Jakarta. Sastra mampu menelaah fenomena realitas yang terjadi di masyarakat. Menurut Goldman, karya sastra sebagai struktur mempunyai memiliki makna merupakan wakil pandangan dunia penulis tidak sebagai individu melainkan sebagai anggota masyarakat. Pandangan kolektif ini di anggap sebagai kesadaran kolektif.
Kesadaran kolektif ini berkembang sebagai hasil dari situasi sosial ekonomik tertentu yang dihadapi oleh subjek kolektif yang memilikinya. Kemunculannya mengalami proses yang panjang (Goldmann,1981). Proses yang panjang itu disebabkan oleh kenyataan bahwa pandangan dunia merupakan kesadaran yang mungkin, yang tidak setiap orang dapat memahaminya.
Struktur karya sastra yang membangun cerpen ini semuanya belum secara implisit muncul. Misalnya tokoh, tokoh dalam cerpen ini hanya secara tersurat di ketahui. Tapi dapat di simpulkan bahwa tokoh dalam cerpen ‘’Jakarta 2030’’ adalah kelas sosial bawah dengan kelas sosial atas.
Struktur sosial di tengah-tengah masyarakat dalam cerpen’’Jakarta 2030’’ tidaklah teratur, hal ini penyebab tatanan negara tidak teratur. Misalnya, banyaknya kejahatan-kejahatan yang ada, hutan-hutan gundul akibat fakta sosial yang sedang di hadapi masyarakat kota jakarta. Hal ini penulis meprediksi fenomena yang akan terjadi di tahun 2030 sedangkan di tahun sekarang, keadaannya seperti ini.
Kehidupan kelas-kelas sosial bawah tidak mampu menyuarakan hak kepada penguasa di karenakan amat kecil status mereka. Kelas-kelas sosial bawah, ini mampu mematahkan hati seseorang untuk mendapatkan haknya.
Setelah uraian di atas bahwa ternyata cerpen ‘’Jakarta 2030’’ ada hubungannya dengan strukturalisme genetik. Hal ini di buktikan bahwa ada gabungan antara strukturalisme dengan marxisme. Cerpen ‘’Jakarta 2030’’ cerpen yang mengungkapkan aktivitas manusia, perilaku manusia yang dapat merubah struktur sosial masyarakat.
BAB 1V
KESIMPULAN
Strukturalisme genetik merupakan gabungan antara strukturaliseme dan marxisme. Dari cerpen ‘’Jakarta 2030’’ Martin Aldies mengungkapkan tentang realitas sosial masyarakat Indonesia. Struktur sosial masyarakat yang tidak teratur menyebabkan pola tingkah laku manusia dan aktivitas manusia berubah.
Martin Aldies dengan cerpennya bertajuk’’Jakarta 2030’’ merupakan bentuk kritikan tentang realitas sosial di masyarakat. Dengan teori strukturalisme genetik cerpen ini di analisis sehingga lebih jelas tahu tentang kategori-kategori dalam strukturalisme. Sastra merupakan cerminan masyarakat. Sastra mampu menelaah dan membaca keadaan lingkungan sosial masyarakat.
Dari cerpen ‘’Jakarta 2030’’ kita dapat mengetahui kekosongan kekuasaan yang membuat tatanan ketatanegaraan carut marut. Terjadi kelas sosial atas menindih kelas sosial bawah. Hal ini di lakukan oleh penguasa dengan masyarakat kelas bawah. Di lihat dari judulnya’’Jakarta 2030’’ penulis ingin menggambarkan tentang keadaan kehidupan sosial tahun 2030.
DAFTAR PUSTAKA
Kurniawan,heru. 2012. Teori, metode,dan aplikasi sosiologi sastra. Yogyakarta.Graha Ilmu
Fananie, Zainuddin. 2002. Telaan sastra. Surakarta: Muhammadiya university prees
Ratna. 2013. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Sunarto, 2004, Pengantar sosiologi sastra. Jakarta : Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
www.4shared.com/office/JIkh6plp/Kumpulan_Cerpen_Indonesia.html, di unggah tanggal 1-1-2014 pukul 23.11

Komentar
Posting Komentar