Berbicara tentang sastra mungkin di benak semua orang berkenaan tentang tulis menulis. Iya betul sastra adalah ungkapan perasaan dalam hati dan kata sebagai bahasa perantara dalam mengapresiasikan ungkapan tersebut. Bicara dengan sastra pastinya ada yang mengatakan hasil karya. Dari sastra menghasilkan karya yang di sebut karya sastra. Karya sastra di bagi menjadi 3 yaitu puisi, drama dan naratif.
Perkembangan sastra di indonesia tak lepas dari peran-peran
sastrawan dalam menciptakan karya sastra. Sastra tak hanya sebagai bahan
hiburan atao bahan bacaan tetapi juga sebagai bentuk perjuangan dalam melawan
penjajah. Dari sastra juga akan menciptakan
kepribadian manusia yang baik karena sastra mampu mengubah sikap seseorang.
Sastra merupakan bentuk hasil karya yang berupa fikiran
mengenai realitas masyarakat yang di racik dengan menggunakan bahasa yang indah
dan kata-kata yang indah pula. Obyek dari sastra bisa manusia, masyarakat,
lingkungan, letak geografis dan budaya. Hal tersebut bisa di gunakan sebagai
obyek dalam membuat karya sastra. Hal ini
sebagai sastrawan harus peka terhadap lingkungan masyarakat sebab karya sastra
lahir juga dari masyarakat. Pola tingkah laku masyarakat bagi sastrawan yang
peka akan menjadi bahan yang mahal karena dari situlah dia menulis. Dari banyak
karya sasta misalnya novel tidak lepas dari kehidupan manusia dan biasanya
menceritakan manusia dalam keadaan sedih, bahadia, menderita dll. Hal memang
benar apa yang di katakana oleh Plato, Sastra adalah sebagai cerminan masyarakat. Jadi segala yang
ada di dunia ini adalah hanya tiruan belaka. Misalnya seorang penyair
menggambarkana setangkai bunga maka dia
tidak dapat langsung membuat
tiruan bunga yang berada di dunia gagasan tetapi dia hanya bisa meniru bunga
yang ada di dunia ini. Sastra tak lepas
dari realitas masyarakat.
Sastra di indonesia juga di gunakan sebagai sumber sejarah.
Pramoedya Ananta Tour seorang penyair yang telah membuat maha karya yang
menajubkan karena telah membuat trilogi novel yang mengisahkan tentang sejarah
indonesia ketika belanda masih berkuasa. Cerita dalam novel trilogi karya
pramoedya merupakan kisa percintaan namun di selengi tentang belanda berkuasa
di indonesia. Meskipun pramoedya menikmati hari-harinya di penjara tak henti
tangannya untuk tetap membuat novel yang menabjubkan. Tak heran ketika pramodya
mendapatkan nobel.k m membongkar kebusukan-kebusukan sebuah negara. Misalnya,
korupsi.Tak asing lagi ketika mendengar kata
korupsi. Sebagai seorang penyair yang di tuntun untuk peka dalam masyarakat,
maka banyak muncul karya sastra berkenaan dengan korupsi. Misalnya karya jujur
pranoto berjudul ‘’musibah’’ yang menceritakan tentang seorang korupsi yang menutupi
kecurangannya dengan membagi-bagi korupsiannya ke dana sosial dan istrinya
pura-pura sakit dan lari di rumah sakit untuk menghindari wartawan. Tujuan
seorang penyair menulis karya ini agar para pembaca mengetahui
kebusukan-kebusukan para koruptor.
Karya sastra bisa membuat pemerintah takut dan lari
terbirit-birit. Puisi Wiji Thukul misalnya, yang kerap mengeritik pemerintahan
yang bobrok. Wiji Thukul seorang anak tukang becak dan penjual gorengan yang
merasakan ketidakadilan pemerintah terhadap kaum bawah. Kemudian Wiji Thukul
mengamen puisi yang temanya mengritik pemerintahan. Bahkan ketika Wiji Thukul
membacakan puisinya di depan umum dan di atas panggung di hadapan pejabat, dia
di paksa untuk turun dari panggung. Puisi-puisi Wiji Thukul sangat di takuti
para pejabat yang sedang melakukan kecurangan dan Wiji Thukul selalu menjadi
buronan. Puisi yang berjudup ‘’Aku Ingin Jadi Peluru’’ sangat meresahkan para
pejabat. Gara-gara puisinya Wiji Thukul menghilang dan sampai sekarang masih
belum di temukan.
Komentar
Posting Komentar