Banyaknya kesusastraan lama Indonesia seperti hikayat yang memakai tulisan Arab Pegon tetapi berbahasa Melayu Indonesia, hal ini menunjukkan bahwa di Indonesia sebelum adanya huruf romawi telah memakai huruf Arab Pegon berbahasa melayu dalam menulis karya sastra. Hal dibuktikan adanya kesusastraan lama berbentuk hikayat seperti, hikayat Sang Boma, hikayat Bayan budiman yang diperkirakan ditulis sebelum masa Hamengku Buwono V, Undang-undang johor dll. Nah, yang menjadi permasalahan saat ini dimanakah keberadaan Arab Pegon di Indonesia, mengapa masyarakat begitu asing dengan Arab Pegon.
Indonesia mempunyai banyak karya-karya sastra lama, yang kebanyakan karya-karya sastra lama tersebut bertuliskan Arab Pegon tetapi berbahasa Melayu Indonesia. Kurang lebih ada 26 negara asing yang menyimpan karya sastra lama Indonesia. Negara tersebut antara lain Singapura, Malaysia, Srilangka, Thailand, Mesir, Amerika Serikat, Afrika Selatan, Belanda, Inggris, Swedia dll. Keberadaan karya-karya sastra lama Indonesia di Negara asing bisa di sebabkan, karena perampasan, pencurian, dijual, cedrarmata dan lain sebagainya. Jika kita lihat dari masyarakat Indonesia yang mempunyai sifat serakah yang lebih mementingkan uang dari pada karya, tidak heran jika karya sastra lama berada dinegara asing. Hal ini sangat di sayangkan jika hasil karya asli orang Indonesia sampai bisa di Negara asing. Kebanyakan masyrakat belum mengetahui bahwa sebenarnya Indonesia telah menggunakan tulisan Arab Pegon sebelum adanya tulisan yang dipakai kita sekarang ini.
Arab Pegon masuk diindonesia masih menjadi perdebatan, di perkirakan sejak 1400 M Indonesia telah mengenal Arab Pegon bersamaan dengan masuknya ajaran islam di indonesia. Alienasi masyarakat tentang Arab Pegon sangat di memperhatinkan, mereka mengetahuinya bahwa Arab Pegon identik dengan pondok pesantren. Bisa dibuktikan dengan adanya kesusastraan lama bertuliskan Arab Pegon.
Tidak hanya dipakai untuk bidang sastra, akan tetapi Arab Pegon juga berperan dalam kemerdekaan Indonesia, yang mana para ulama, kyai, para wali menggunakan Arab Pegon untuk menglabui penjajah indonesia ketika terjadinya penjajahan diindonesia. Para Ulama, Kyai, Para Wali menggunakan tulisan Arab Pegon karena, kaum penjajah tidak faham tentang arti tulisan Arab Pegon. Hal ini siasat yang tidak diketahui oleh para penjajah yang menyebabkan para Ulama, kyai, para wali menang dalam menghadapi penjajah.
Arab Pegon tidak hanya tersebar diindonesia saja, akan tetapi juga tersebar di kawasan Bangsa Melayu. Di Malaysia sebagai contohnya, jika di bandingkan Indonesia yang sama-sama bangsa melayu, Indonesia kalah dalam menjaga eksistensi Arab Pegon berbahasa melayu. Di malaysia misalnya, masih mempertahankan kultur Arab Pegon. Hal ini di buktikan dengan adanya majalah bertuliskan Arab Pegon yang bernama majalah Utusan Melayu. Di Malaysia istilah Arab Pegon dinamai dengan tulisan jawi, sedangkan di Indonesia disebut dengan istilah pegon. Eksitensi Arab Pegon di Malaysia disebabkan karena, ketika terjadinya penjajahan di Malaysia, arab pegon(tulisan jawi) di pakai untuk membangkitkan semangat untuk merebut kekuasaan dari tangan penjajah. Selain itu di gedung-gedung pemerintah masih ditulis dengan menggunakan Arab Pegon. Itu menandakan bahwa Malaysia masih mempertahankan tulisan Arab Pegon atau dimalaysia terkenal dengan nama tulisan jawi.
Sama-sama sebagai Bangsa Melayu seharusnya Indonesia juga bisa mempertahankan keberadaan Arab Pegon, karena Arab Pegon merupakan tulisan yang sangat unik yang perlu dilestarikan. Belum tentu orang Arab tahu tentang Arab Pegon. Arab Pegon berbahasa melayu berasal dari bangsa melayu, jadi bisa dikatakan arab pegon berbahasa melayu khususnya Indonesia dibuat oleh orang Indonesia. Sekarang yang menjadi pertanyaan siapakah orang pertama kali memperkenalkan tulisan Arab Pegon berbahasa melayu Indonesia. Hal ini masih belum di ketahui.
Konggres Bahasa yang di adakan di singapura tahun 1950-an merupakan awal terkikisnya penggunaan tulisan Arab Pegon Indonesia. Salah satu keputusan dari konggres tersebut adalah pembentukan Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia yang melopori dan mengompori penggunan tulisan huruf romawi. Saat itulah hampir semua penerbit seperti, majalah, koran, dan buku dengan terpaksa di ubah penulisannya, dari huruf arab pegon menjadi huruf romawi. Jadi, jika kita lihat sekarang kesusastraan lama bertuliskan arab pegon berbahasa melayu Indonesia telah berubah menjadi tulisan yang bisa kita lihat sekarang ini seperti contoh hikayat Bayan Budiman telah berubah menjadi tulisan romawi.
Didunia pesantren arab pegon tidak begitu asing dikalangan para santri, karena mereka di haruskan memaknai dengan menggunakan Arab Pegon tetapi menggunakan bahasa jawa atau sunda. Arab Pegon di kalangan pesantren dianggap sebagai pemersatu Ulama’. Dikalangan pesantren Arab Pegon juga pernah hampir terisolir, karena penelitian menunjukkan bahwa, dipondok-pondok pesantren, para santri dalam memaknai kitab menggunakan huruf latin.
Dari keprihatian para kyai-kyai Indonesia terhadap para santri dalam memaknai kitab kuning, maka para kyai-kyai Indonesia mengadakan rapat membahas masalah ini. Hasil keputusannya adalah untuk melestarikan arab pegon, maka dibuatlah majalah bertuliskan Arab Pegon berbahasa Indonesia yang di beri nama At-turats. Meskipun Indonesia tidak negara Arab tetapi Arab Pegon merupakan tradisi adi luhung yang perlu dilestarikan. Majalah At-turast tidak hanya membahas tentang keislaman akan tetapi juga membahas tentang problematika Indonesia saat ini. Dikalangan masyarakat luas majalah At-turast masih belum banyak orang yang mengetahui. Jadi indonesia tidak kalah dengan Malaysia. Kalau Malaysia mempunyai majalah Arab Pegon bernama Utusan Melayu, indonesia juga mempunyai majalah arab pegon bernama At-turast
Dikalangan yang lebih luas huruf Arab pegon di kenal dengan istilah Arab Melayu karena ternyata huruf Arab Pegon berbahasa Indonesia telah digunakan di kawasan bangsa melayu dimulai dari Terengganu(Malaysia), Aceh, Riau, Sumatra, Jawa(Indonesia), hingga Thailand bagian selatan.
Sayangnya, Arab Pegon saat ini tidak di kenal masyarakat luas. Arab Pegon berbahasa jawa sangatlah unik. Hal ini sangat di sayangkan jika suatu saat Arab Pegon semakin terkikis. Padahal, Arab Pegon telah digunakan secara luas oleh para penyair agama islam, ulama’, sastrawan, pedagang, politikus di kawasan dunia melayu. Seharusnya, meskipun saat ini tulisan-tulisan kita menggunakan tulisan romawi, tidak salahnya jika kita mengetahui tentang Arab Pegon. Tidak hanya di kalangan santri saja yang harus melestarikan, akan tetapi masyarakat luas juga perlu melestarikan Arab Pegon.

Komentar
Posting Komentar